Elemen Silicon, pertama kali ditemukan oleh seorang ilmuwan dari Swedia, Jöns Jakob Berzelius,  pada tahun 1823. Silikon (simbol Si, nomor atom 14). Jöns Jakob Berzelius, juga orang pertama yang mengusulkan agar setiap unsur kimia diberi lambang berupa huruf awal dalam bahasa Latin. Ia juga ilmuwan yang menunjukkan bahwa setiap atom memiliki keterikatan dalam molekul disebabkan adanya tegangan listrik. Selain penemuan elemen silikon, Berzelius menemukan beberapa unsur kimia lainnya, seperti: selenium, thorium, dan serium. Menurut beberapa sumber dan literatur kimia, unsur silicon yang ditemukan oleh Berzelius, merupakan unsur kimia terbanyak kedua pada kerak bumi setelah oksigen. Dimana jumlah kelimpahan massa pada unsur kerak bumi diperkirakan sebagai berikut; oksigen 46%, silikon 28%, aluminium 8,2%, besi 5,6%, kalsium 4,2%, natrium 2,5%, magnesium 2,4%, kalium, 2,0%, dan titanium 0,61%. Jumlah unsur-unsur lainnya diperkirakan kurang dari 0,15%.

Jumlahnya unsur silicon yang berlimpah dan struktur atomnya yang adaptif, menajadikan silikon memiliki sifat semikonduktor yang sangat baik. Karena itu, silicon menjadi bahan dasar yang paling banyak digunakan untuk komponen elektronik dan komputer, seperti; Untuk bahan dasar pembuatan Integrated Circuit, Transistor, Dioda Silikon, dan sirkuit eletronik lainnya. Semikonduktor (semiconductor) sendiri dapat diartikan; Sebagai "penghantar listrik ideal yang bersifat sedang dan adaptif baik itu sebagai konduktor, maupun saat menjadi isolator".  Dalam hal ini material atau elemen silicon yang misalnya berupa grid dalam IC dapat beradaptasi pada suhu tertentu, baik sebagai penghantar arus listrik, ataupun sebaliknya. Sifat konduktor/isolator silikon umumnya dapat berganti saat terjadi perubahan temperatur (suhu), atau saat dicampur dengan unsur-unsur lain, seperti boron, fosfor dan arsenik, untuk mengubah sifat konduktifnya.