Di Lyon, Prancis, Basile Bouchon penemu alat tenun tahun 1725, menggunakan gulungan pita kertas berlubang yang kemudian ditingkatkan pada tahun 1728 oleh asistennya Jean-Baptiste Falcon untuk menggunakan kartu punch.  Bouchon adalah putra dari pembuat organ sekaligus penenun, dengan demikian Bouchon sudah terbiasa dengan silinder untuk organ yang berputar dan digunakan dalam organ otomatis, seperti organ barel. Bouhon faham bentul fakta bahwa isi informasi untuk silinder automata musik pertama kali harus diletakkan di atas kertas, sebelum desain diterapkan pada silinder yang sebenarnya sangat mahal. Bouchon mengotomatiskan sebagian proses tenun dari penggulung dimana seorang operator harus mengangkat benang menggunakan kabel. Metode Bouchon ini selanjutnya dianggap sebagai aplikasi industri pertama dari mesin semi-otomatis.

Terlepas dari kelebihannya, penemuan Bouchon tidak memiliki banyak keberhasilan karena jumlah jarum tidak cukup untuk memungkinkan pembuatan desain besar. Selain itu, ia menggunakan gulungan kertas (lihat gambar di dekatnya), yang tidak terlalu praktis. Tiga tahun kemudian, pada tahun 1728, salah satu asisten Bouchon, bernama Jean Baptiste Falcon memperbaiki mesin, memperluas jumlah tali yang dapat ditangani dengan mengatur lubang-lubang dalam barisan. Dia juga mengganti gulungan kertas dengan satu set kartu yang saling menempel satu sama lain dalam satu lingkaran tanpa akhir (lihat gambar terdekat), yang memungkinkan untuk mengubah kinerja alat tenun Bouchon dapat bekerja lebih efisien. Setiap punch card dapat mengontrol satu kait atau jarum. Hal ini menjadikan improvisasi Falcon pada alat tenun Bouchon menjadi lebih baik, karena kartu yang rusak/robek dapat dengan mudah diganti, sedangkan sistem Bouchon mengharuskan seluruh gulungan kertas diganti, jika kertas tenun mengalami robek/kerusakan.

Meskipun alat tenun Bouchon dan Falcon dapat menghilangkan kesalahan dalam pengangkatan benang, mereka masih membutuhkan operator tambahan (atau bahkan dua dari mereka) untuk beroperasi. Alat tenun Bouchon dan Falcon sedikit berhasil: sekitar 40 alat tenun tersebut telah dijual pada tahun 1762. Upaya otomatisasi selanjutnya dilakukan oleh Jacques Vaucanson pada tahun 1745, juga tidak terlalu berhasil. Hingga pada tahun 1805, Joseph Marie Jacquard, setelah serangakain kegagalan, mampu mencapai keberhasilan dengan alat tenunnya.